Pasar Sukawati merupakan sebuah pasar yang sangat terkenal di Bali. Karena pasar ini menjual pakaian-pakaian santai dengan harga yang sangat miring.
Pasar Sukawati menyediakan pakaian-pakaian seperti Batik khas bali, selain batik khas bali juga tersedia berbagai macam baju-baju serta celana pendek harga miring yang akan cocok dipakai di pantai. Dan juga ada beberapa kaos yang bercorak Bali. Semua barang-barang disini bisa ditawar, dan sebagai tipsnya harganya bisa sepertiga dari harga pertama yang ditawarkan oleh penjualnya.
Dan untuk melancarkan tawarannya, sebaiknya datang ke pasar ini ketika pagi sekitar jam 8-10 karena para penjualnya baru selesai sembahyang dan mereka menggap jika jualan mereka berhasil di pagi tersebut akan mendatangkan kelarisan untuk jam-jam selanjutnya.
Selain pakaian-pakaian murah, di pasar ini juga terkenal dengan barang-barang seni seperti lukisan dari berbagai aliran lukisan. Juga ada berbagai model tas.
Dan sebelum menuju ke pasar Sukawati, sebaiknya mengunjungi Pusat Kerajina Perak Celuk. Di kerajinan perak celuk ini kita bisa membeli berbagai macam kerajinan yang terbuat dari perak. Dan kelebihan lainnya, disini kita juga bisa melihat secara langsung bagaiman para perajin membuat kerajinan perak tersebut.


Gianyar sebagai maskotnya budaya pariwisata mestinya memulai melakukan penataan baik dari tata ruang bangunan Grand Design , penataan penduduk pendatang dengan aneka warna , menyewakan tanah, kontrak sampai proses jual beli harus jelas peruntukannya, jangan seperti daerah wilayah semebaung yang tata ruang bangunan agak sembraut dan berkesan kumuh.. kedepan gianyar kaya apa mainsetnya harus semua warga gianyar khususnya bali umumnya harus perduli akan lingkungan, saya pribadi untuk kedepannya tidak sangat setuju digianyar adanya banyak kapling tanah hanya untuk memberi peluang pendatang untuk beramai ramai memadati wilayah tanpa ada penyediaan ruang gerak lapangan pekerjaan
Catatan saya jagan gianyar berbangga dulu yang mungkin untuk rata rata PAD antar kabup diluar Kodya dan Badung paling tinggi tetapi jika tidak melakukan mainset yang bagus Gianayr akan seperti kuta or sanur terlambat untuk melakukan koreksi baik Tradisi budaya dan retual lainya.
akan dirumah sendiri jadi pelayan cuma ini memerlukan waktu … Mohon kita bersama sama memikirkan Bali Kedepan …. sebatas wecana banyak tapi perlu aksi dan berbagi
Oleh: wira prasasta on Maret 16, 2009
at 6:55 am
Benar pak, Penduduk pendatang sepertinya tidak terkontrol pak, banyak local yang prefer menjual lahannya.. atau pun menyewakan, disini kita harus pintar mengatur masyarakat.. bukan itu aja.. kita harus mulai berfikir dewasa, mau kemana gianyar, apa jadinya gianyar, 5, 10, 15 tahun kedepan, apa tetap unik, seni, berbudaya, santun, ataupun menjadi lebih buruk.
Oleh: kadek wikan on Maret 20, 2009
at 3:03 am
saya sebagai masyarakat gianyar yang ada dirantau sangat prihatin terhadap banyaknya warga yang menjual lahan/tanah warisan luluhur kepada orang luar non bali, kalo bisa saya sarankan janganlah dijual kasihan anak cuucunya nanti jadi buruh/penonton di tanah kelahiran sendiri, marilah bekerja keras lihat orang2 pendatang yang datang ke bali dia tidak berbekal apa2 tapi pada akhirnya mereka bisa membeli tanah di bali dan sukses, jangan malu kerja, daripada minum, mabuk-mabukan, berjudi lebih baik kerja apa aja yang penting halal
Oleh: ariawan on Juni 6, 2009
at 4:22 am